Bandung, 27 Maret 2007
Jika aku memandang ke belakang, yaitu keseluruh bagian dari kehidupan yang telah aku lalui baik suka maupun duka, aku merasa kalau saat sekarang ini adalah saat dimana aku sulit untuk membuat suatu keputusan. Ketika aku dihadapkan pada dua pilihan yang hampir mirip, dalam hal efek yang mungkin akan terjadi dalam kehidupanku. Yah, antara ”monte carlo” atau ”destilator”, begitulah aku menyebutnya. Ketika pertama kali aku memberanikan diri memilih ”monte carlo”, hari-hari kulalui dengan ceria. Seolah-olah hidup ini tanpa beban. Setiap hari berusaha untuk mengenalnya dan memahaminya. Sampai-sampai aku merasa berada pada satu titik dimana aku memiliki keyakinan kalau aku tidak salah jalan. Tetapi ketika hal itu terjadi, semuanya berubah, mimpi-mimpi yang selama ini kubangun hancur sudah. Yup, ternyata semua tidak sesuai dengan perkiraan. Asumsi-asumsi yang selama ini digunakan ternyata salah total. Semuanya hancur. Tidak seindah yang dibayangkan.
Mencoba ”lari” dari masalah, aku mengalihkan perhatian ke ”destilator”, dengan harapan bisa segera melupakan ”monte carlo”. Kembali, dengan menggebu-gebu mencoba memahami ”destilator’, mencoba berusaha mengenalnya lebih jauh, berusaha memahaminya. Tetapi apa yang kudapat lagi-lagi tidak sesuai dengan harapan. Tidak semudah yang diperkirakan. Semakin aku mengenalnya, semakin aku tak kuasa melupakan ”monte carlo”. Usaha-usaha yang kulakukan untuk menghapusnya dari ingatan seolah-olah malah semakin membuatku mengingatnya. Berusaha menghindar, tidak bisa. Seolah-olah dia memiliki satu jerat yang tak akan pernah mampu aku lepaskan. Malah semua memori tentang sang ”monte carlo’ terulang kembali layaknya video clip yang diputar dikepalaku. Senyum ramah sang ”destilator” hanya semakin membuat hatiku semakin hancur. Merasa kalau sulit sekali membuat satu pilihan. Ingin aku berkata pada destilator, aku tidak mampu melepaskan diri darinya.
Akhirnya beginilah adanya. Berada diantara ”monte carlo” dan ”destilator”. Dimana keduanya seolah-olah sayup-sayup memanggil namaku. Tanpa tau harus kemana melangkah. Mungkin hanya masalah waktu. Yang dibutuhkan hanya kesabaran, ketekunan, dan keberanian untuk menerima semua konsekuensi dari pilihan yang akan aku tetapkan.
