Latest Entries »

Staying or Leaving

from dimaztj-siculun.blogspot.com

Staying or Leaving? This question arouse in my mind lately.

It has been two years and three month I work in here. Almost three years my girlfriend and I have been separated. It has been almost four years I left my college and left my Student Union Community. I don’t know what I’ve got in recent two years. My English skill decrease rapidly. I almost forgot how to solve Thermodynamics problems. Then the question arouse . Staying or Leaving? And I did not make any decision yet.

I have to decided before November.

Staying or Leaving, I still confused…

Two months ago I bought a new phone. I bought if for some reasons. One of it is, I want to install Our Daily Bread devotion. So I can do a daily-morning-prayer. I also sign up for RBC Ministry so that I may receive Santapan Harian for free. I hoped I could keep my Spiritual Discipline. I done thia because I feel so terrible. I mean, okay I attend Sunday Service in GPIB every week. But I did not do my daily prayer. I woke up in hurry, toke a bath, then went to my office in super high speed mode. In the evening, I was so exhausted. Then slept. It happened almost everyday. Now you can notice that finally I did not have any time to take a prayer time. I mean, this it what I experience lately. Did you find the correlation beetwen a new cell phone and Daily Prayer?

I just want to say, it is not about the facility. But it’s about ourself. I have a new almost useless high tech phone. I have free devotional from RBC Ministry. But still, I can’t improve my Spiritual Discipline.

So I conclude, there is something wrong with my heart. Time to change.

Disclaimer : Sorry for my bad grammar. It’s been a long time since I wrote in English (and spoke of course)

Road to Teluk Batang

Sabtu pagi yang dingin. Tak biasanya Ketapang sedingin ini. Aku melihat jam di ponsel, ternyata masih jam 5 pagi. Pantas saja aku belum mendengar alarm. Mungkin karena pagi ini kita para pemuda GPIB akan berangkat ke Teluk Batang, mengantarkan mahasiswa praktek dari STT Jakarta. Dia akan melayani di GPIB Seponti di Teluk Batang.

Perjalanan pun dimulai. Huh, jalanan yang kami lalui cukup parah juga. Aku terus menulis

About Me

My name is Ferdinan NTP Simanullang
As my name implies, I’m Batak people.
I was born in Medan, spent my chilhood in warm town, Medan city.
After graduated form Senior High School, I continued my study at Institut Teknologi Bandung. I took Mechanical Engineering department.
Now I’m working in State Electric Company as an Engineer of Maintenance.
I try to keep the powerlant from being broken. So all people around my place able to use electricity 😀

I have a dream, that sooner or later I will take graduate program. I want to study abroad.
I’m interesting in Renewable Energy. Like tidal power, or Sun power. Aachen and King Royal University are good choices. I want to use my knowledge in building my country. Amen. Hehe

This is my first note which I wrote in English. The reason why I wrote in it, because since I graduated from ITB, I never use English. Not only speaking but also in writing. And I think my English skill is decrease. So, if you read this note, and find bad grammar, please let me know 🙂

Okay, tonight I feel so uncomfortable. Weird isn’t it. Tomorrow is holiday, moreoever, long weekend.
And tomorrow my Youth Community in Churc will go to Pulo Datuk beach. It’s about 60 km from Ketapang. Well, it’s nice going to beach. Especially after passed a busy week. It’s good as a recreation. It’s interesting to stare at rolling wave. Or sitting while listening to the voice of sea bird.

But, how about going with people who seven years younger than you? I think it would be bored. Maybe it would be like a babysitter who watch naughty kids. Haha.

Hmm, I hope tomorrow would be fun. Maybe I should take place separately. I just wantto enjoy this weekend in loneliness. Hah!

Resensi Film Fireproof

Mungkin ada yang udah nonton film ini? Silahkan berbagi dan mohon koreksi saya jika ada kesalahan. Seorang “teman” merekomendasikan film ini untuk ditonton. Well, terimakasih buat “teman yang saya kasihi” tersebut yang telah merekomendasikan film tersebut. Aku tidak menyesal telah menontonnya 😀

O iya, katanya sih film ini udah diputar di persekutuan besar PMK Jatinangor. Mungkin anak-anak PMKJ bisa memberi komentar.

Film ini berkisah tentang pasangan suami istri, Caleb dab Catherine, yang diambang perceraian. Sang suami merasa sang istri tidak menghargainya. Sang istri merasa tidak diperhatikan dan ingin dimengerti (biasalah wanita :p). Pada dasarnya keduanya sebenarnya sama-sama ingin dimengerti. Film ini menunjukkan  pada kita realita kehidupan manusia, khususnya dalam relasi antara pria dan wanita. Sebenarnya problem dalam relasi pria dan wanita sudah menjadi masalah klasik.

Dalam film ini dikisahkan Caleb sang suami berprofesi sebagai pemadam kebakaran. Sedangkan sang istri, Catherine bekerja dirumah sakit setempat. Pertengkaran dalam film ini diawali oleh adegan dimana Caleb menanyakan apakah Catherine memiliki waktu untuk berbelanja. Caleb mengajukan pertanyaan ini karena dia melihat cadangan makanan mereka di lemari makanan telah habis. Tanpa disangka, ternyata respon dari Catherine negatif. Bukannya mengiyakan, dia malah meminta Caleb yang berbelanja dengan alasan Caleb lebih banyak memiliki waktu luang. Dari teriakan-teriakan, kalimat-kalimat yang dilontarkan sebenarnya terlihat bahwa Catherine menginginkan perhatian dari suaminya. Pertengkaran berlanjut sampai pada satu titik, keduanya ingin mengajukan perceraian.

Berita tentang akan bercerainya mereka sampai ketelinga ayah Caleb, sehingga dia memutuskan untuk datang menjenguk anaknya dan memberikan nasehat-nasehat yang bertujuan mencegah perceraian anaknya. Hingga dia memberikan satu buku berisi instruksi-instruksi bagaimana memperlakukan wanita. Caleb harus melakukan instruksi-instruksi itu setiap hari, sampai hari ke 40. Hingga hari ke 42, Caleb belum juga berhasil merebut kembali hati istrinya. Hari ke 43, akhirnya mereka kembali berdamai dan perceraian terhindarkan.

Film ini mengajarkan beberapa hal (buat saya) :

  1. Film ini mengajarkan bagaimana mencintai yang sesungguhnya. Ketika Caleb melakukan tindakan-tindakan untuk merebut kembali hati istrinya, dia mendapat respon negative. Bahkan dicaci maki oleh istrinya. Tapi begitulah mencintai, kita tidak mengharapkan balasan. Ketika kita menerima respon yang negative, kasih/cinta kita tidak akan pernah habis bagi orang yang kita cintai itu. Demikian juga kasih Kristus bukan?
  2. Kedua, film ini juga menunjukkan bagaimana pernikahan yang baik yaitu pernikahan yang dilandaskan pada Kristus. Ketika Caleb menerima dan percaya kepada Kristus (hari ke 22 jika saya tidak salah ingat), dia akhirnya mengerti bagaimana mencintai sesungguhnya. Dengan bercermin kepada kasih Kristus, yang rela berkorban di kayu salib, dia mampu mengasihi istrinya tidak peduli bagaimana reaksi dari istrinya.
  3. Film ini juga menunjukkan pentingnya peran orangtua dalam kehidupan anaknya. Dalam film ini ditunjukkan bagaimana ayah Caleb lah yang “berhasil” memberitakan Injil bagi anaknya, yang berimbas pada keberhasilan pernikahan anaknya. Seharusnya demikianlah tiap-tiap ayah Kristen menjalankan perannya.
  4. Pentingnya sebuah komunitas yang baik. Dalam film ini, ditunjukkan bahwa Caleb memiliki seorang teman yang telah lebih dahulu percaya dan sampai sejauh ini mampu menjaga kehangatan cinta (halah) dalam pernikahannya J
  5. Film ini juga mengingatkan bahwa cinta romantic itu tidak selamanya ada. Cinta romantic juga mengalami fluktuasi, kadang berada di puncak, kadang dibawah. Namun yang menjaga cinta itu tetap bertahan adalah komitmen J
  6. Dalam film ini ada beberapa quote yang bagus menurut saya, misalnya :

“Wanita itu seperti mawar, jika tidak tau merawatnya maka dia akan layu”

“Berhentilah berkata negatif pada pasangan, jika godaan itu muncul, tahan jangan katakan apapun. Lebih baik tahan lidahmu daripada katakan hal yang akan kau sesali. Cepatlah mendengar, lambatlah berkata dan jangan cepat marah”

“Sulit kemukakan cinta saat kau tak termotivasi. Tetapi cinta tak hanya berdasar pada perasaan, melainkan niat untuk tunjukkan tindakan yang bermakna. Bahkan walau tampaknya takkan ada timbal balik”

Well, I think that’s all. Kalau ada hal-hal yang kurang, mohon dimaklumi, aku tidak begitu lihai dalam membuat tulisan (ini sedang belajar. Hehehe). Maaf juga kalo kepanjangan dan rada membosankan, tapi ntah kenapa aku gak bisa menahan hasrat untuk berbagi tentang film ini.

Dipersembahkan untuk anda-anda yang sedang, pernah, akan jatuh cinta J

Bagaimana saya mengetahui kehendak Allah dalam hidup (khususnya dalam mengetahui panggilan hidup)?

Banyak orang Kristen bertanya-tanya bagaimana mengetahui kehendak Allah dalam kehidupannya. Apalagi anak-anak PMK yang saya yakin ingin melakukan kehendak Allah (God’s will) tetapi bingung bagaimana mengatahuinya. Misalnya ketika akan menentukan mau kemana setelah lulus. Bahkan ada cerita seorang teman yang sampai menunda kelulusannya karena masih bingung hendak kemana setelah lulus. Mengetahui kehendak Allah memang bukan perkara yang menurut saya mudah, butuh pergumulan yang lumayan panjang. Prinsip-prinsip dibawah ini mungkin dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk mengetahui kehendak Allah (saya mengumpulkan dari beberapa artikel yang pernah saya baca dan beberapa yang pernah saya alami)

1. God doesn’t make junk. We are His masterpiece

Tuhan punya rencana yang indah dalam hidup kita. Dia menciptakan manusia bukan tanpa tujuan. Seperti Allah telah memilih nabi Yesaya (Yesaya 49:1) dan Yeremia (Yeremia 29:11) sejak dalam kandungan untuk suatu tujuan khusus, demikian juga masing-masing kita memiliki tujuan khusus. Oleh sebab itu, maka menjadi kewajiban kitalah untuk mengetahui apa panggilan khusus kita. Sebelum bergumul akan kehendak Allah, pertama-tama yakinkan diri Anda akan hal ini.

2. Jalin relasi yang intim dengan Allah

Melalui relasi yang baik dengan Allah, kita dapat semakin mengetahui kehendak Allah. Ibaratnya, semakin kita dekat dengan seseorang dan semakin kita mengenalnya, maka semakin kita mengetahui apa keinginannya. Demikian juga dengan Allah. Untuk itu, hal yang terutama perlu dilakukan tentunya terus berjuang untuk semakin mengenal Allah. Praktisnya lewat saat teduh, PA pribadi dan Bible reading.

3. Mau mendengarkan nasehat orang lain

Allah bisa memakai siapa saja, apa saja untuk menggenapi rencanaNya. Mungkin terkadang kita kurang kepekaan, sehingga membuat kita merasa belum mengetahui kehendak Allah dalam hidup kita. Padahal sebenarnya Allah sudah memberitahukan dengan gamblang pada kita. Untuk itu kita memerlukan bantuan orang lain yang ada disekitar kita untuk mengingatkan kita, menuntun kita mengetahui kehendak Allah. Misalnya pendeta di gereja, orangtua, kakak PA, dan teman-teman persekutuan. Amsal 12:15:

“Si pencemooh tidak suka ditegur orang; ia tidak mau pergi kepada orang bijak”

4. Kenali diri sendiri

Untuk mengetahui kehendak Allah, dibutuhkan juga kemampuan untuk mengenal diri sendiri. Tuhan telah mengaruniakan masing-masing kita talenta yang berbeda. Kembali lagi, dibalik karunia yang berbeda itu, Allah memiliki tujuan/ rencana yang indah. Seperti tertulis dalam Roma 12:6-8:

Demikianlah kita mempunyai karunia yang berlain-lainan menurut kasih karunia yang dianugerahkan kepada kita: Jika karunia itu adalah untuk bernubuat baiklah kita melakukannya sesuai dengan iman kita.  Jika karunia untuk melayani, baiklah kita melayani; jika karunia untuk mengajar, baiklah kita mengajar;  jika karunia untuk menasihati, baiklah kita menasihati. Siapa yang membagi-bagikan sesuatu, hendaklah ia melakukannya dengan hati yang ikhlas; siapa yang memberi pimpinan, hendaklah ia melakukannya dengan rajin; siapa yang menunjukkan kemurahan, hendaklah ia melakukannya dengan sukacita.

Demikian juga yang tertulis dalam Matius 25:14-30. Allah member masing-masing kita talenta, dan Dia ingin kita menggunakannya bukan menyimpannya.

Timbul pertanyaan, “boro2 tau kehendak Allah, apa karunia gw aja, gw gak tau”. Menurut saya, inilah yang menjadi bagian kita, bagaimana kita bisa tau apa karunia kita. Juga mirip dengan poin no 3, kita juga bisa mengetahui apa karunia kita lewat orang lain. Kalau kita sudah mengetahuinya, maka kemungkinan besar ditempat dimana kita bisa menggunakan karunia kita itulah Allah menginginkan kita ada. Misalnya, buat seseorang yang cakap mengajar, maka kemungkinan besar Allah menginginkan dia menjadi tenaga pengajar.

Terkadang banyak orang terjebak dengan pemikiran yang berkata bahwa karunia lain lebih baik daripada karunia yang lain. Contohnya si A, sebenarnya dia cakap dalam mengajar. Ketika diberi tanggungjawab untuk mengajar, dia mampu melakukannya dengan baik. Namun tetap saja dia berkilah, “ah, saya tidak bisa mengajar”. Karena bagi dia jauh lebih hebat menjadi seorang eksekutif daripada menjadi seorang tenaga pengajar. Jujur, ini pernah saya alami.

5. Apakah ada damai sejahtera dihati?

Ada kedamaian ketika kita menjalaninya. Mungkin ada momen kita dihadapkan pada banyak pilihan. Dan kita bingung ingin memilih yang mana, tetapi kita harus memutuskan apa yang menjadi pilihan kita. Dalam konteks ketika kita sudah menetapkan pilihan, maka akan ada rasa damai/ rasa tentram dalam hati kita. Seperti yang tertulis dalam Yesaya 32:17 :

Di mana ada kebenaran di situ akan tumbuh damai sejahtera, dan akibat kebenaran ialah ketenangan dan ketenteraman untuk selama-lamanya.

6. Kembali pada Alkitab

Alkitab adalah Firman Allah. Firman Allah akan menuntun kita mengetahui kehendak Allah.

Thy word is the lamp unto my feet.

7. Berdoa

Doa adalah nafas hidup orang Kristen. Minta tuntunan Roh Kudus dalam menolong kita membuat keputusan dengan hikmat.

8. KehendakNya selalu sejalan

Yang terakhir, kehendak Allah tidak pernah bertentangan, namun saling mendukung. Yang saya maksud disini adalah kehendak Allah yang sudah mutlak. Misalnya, Dia dimuliakan. Kemudian sesuai dengan perintahNya dalam Matius 28 :19-20.

Hal-hal diatas hanyalah alat, tidak bisa dengan begitu saja membuat kita mengetahui kehendak Allah. Semuanya kembali pada kita, apakah kita mau mengetahui kehendak Allah. Karena menurut saya, kadang kita terjebak dengan keinginan pribadi sehingga sulit rasanya mengetahui kehendak Allah dalam hidup kita.

Bagaimana jika seandainya kita telah menentukan pilihan, namun akhirnya kita merasa bukan inilah panggilan hidup kita, ini bukan kehendak Allah. Hati-hati, terkadang pernyataan seperti itu hanyalah sarana untuk membenarkan diri kita. Padahal sebenarnya kita tidak mampu bertahan, kita tidak mau berjuang lebih lagi.

Ketika telah membuat keputusan, percayalah bahwa Tuhan akan menyertai kita, apapun keputusan kita. Tuhan telah memberi kita kehendak bebas, sehingga kita bisa memilih mau kemana kita. Seandainya pun kita salah menetukan pilihan, Allah bisa memakai itu untuk menggenapi rencanaNya. Meski kita diberi kehendak bebas, namun Allah tetap “campur tangan” dalam kehidupan kita. Ketika dia mengijinkan kita membuat keputusan yang salah, mungkin Dia ingin mengajarkan sesuatu bagi kita. Walaupun mungkin kita akan mengalami penderitaan J

Akhirnya, jangan pernah menyesali keputusan yang telah dibuat. Karena penyesalan adalah pembunuh yang membuat kita merasa menjadi orang paling menderita. Jalani semuanya dengan rasa syukur dan melakukan yang terbaik untuk peran yang kita miliki. Sebab hidup kita adalah anugrah dari Tuhan. Keep fighting. —ferdinan

Salam

Halo…

Blog ini baru dibikin, jadi penulisnya masih agak bingung dengan tombol-tombol yang ada. Jadi, mohon pengertiannya. Hehe.

Bandung, 15 Juli 2007

Selama seminggu ini saya memiliki cukup banyak waktu untuk merenung. Hal ini mungkin dikarenakan sedikitnya orang-orang yang saya temui untuk diajak berinteraksi. Begitu banyak kesempatan-kesempatan dimana saya hanya seorang diri. Mulai dari ketika duduk ditrotoar pukul 5 pagi sambil menikmati udara pagi kota Bandung, kemudian ketika duduk diatas bus Bandung-Jatinangor atau ketika dalam perjalanan pulang dari dipati ukur menuju rumah kost, bahkan ketika  apa yang diebut insomnia semakin merajalela. Sembari menggeliat-geliat diatas kasur yang lumayan empuk, pikiran mengembara entah kemana. Merenung, berpikir akan apa yang telah terjadi dalam kehidupanku. Aku menyadari kalau selama ini banyak mengeluh akan hal-hal yang tidak layak dikeluhkan. Manusia seringkali merasa kalau apa yang diperolehnya bukan hal yang luar biasa, bukan hal yang patut disyukuri. Manusia seringkali mengharapkan banyak hal, tetapi tidak mau berusaha untuk mencapai apa yang diharapkan. Hanya berharap tanpa berbuat apakah itu layak dilakukan? Tentu saja tidak. Ibarat para pelaut yang hanya mengharapkan angin bertiup sehingga kapal dapat melaju dengan kencang, tetapi mereka tidak mengembangkan layar kapal demikian seorang manusia yang hanya mengharapkan sesuatu yang besar, indah, tanpa melakukan hal yang bisa ia lakukan. Demikian juga dengan doa yang dilakukan tanpa berusaha. Bukan berarti saya adalah orang yang anti dengan doa-doa. Tetapi bagi saya rasanya tidak adik jika kita hanya berdoa tanpa berusaha.Demikian sebaliknya.
Saya teringat akan kehidupan saya beberapa bulan yang lalu, ketika apa yang saya peroleh sangat jauh dari apa yang saya harapkan. Tentu saja ini mengakibatkan satu kekecewaan yang sangat mendalam bagi diri saya. Namun setelah mengoreksi diri, saya menyadari kalau ternyata apa yang telah saya lakukan belum apa-apa dibandingkan apa yang saya harapkan. Saya menyadari kalau saya sering kecewa akan sesuatu, tetapi tidak melakukan apa-apa untuk sesuatu tersebut.
Seorang teman pernah berkata begini pada saya, Mungkin kita sudah berusaha sebaik mungkin, bahkan sampai berairmata darah, garuk-garuk aspal namun ternyata kita tidak memperoleh apa yang kita harapkan. Tidak apa-apa. Bagi saya (teman saya-red) tidak apa-apa mengalami kekalahan, yang terpenting adalah kekalahan tersebut diperoleh dengan cara terhormat. yang penting adalah kita telah melakukan apa yang menjadi bagian kita. Kemudian tinggal menyerahkan nya pada Tuhan.
Akhirnya melalui perenungan-perenungan saya selama ini, saya menyimpulkan bahwa manusia tidak layak mengeluh jika dia belum berusaha semaksimal mungkin. Walaupun mungkin manusia telah melakukan yang terbaik, namun hasilnya tetap bukan apa yang diharapkan, percayalah kalah secara terhormat lebih indah ketimbang menuntut sesuatu yang tidak layak kita peroleh karena kita tidak berusaha. Selain itu, saya meyakini kalau ada sesuatu yang indah dibalik semua itu. Saya mau belajar untuk mengimani dan mangamini kalau segala sesuatu indah pada waktunya. So, let’s keep on moving and keep on going.

Bandung, 27 Maret 2007

Jika aku memandang ke belakang, yaitu keseluruh bagian dari kehidupan yang telah aku lalui baik suka maupun duka, aku merasa kalau saat sekarang ini adalah saat dimana aku sulit untuk membuat suatu keputusan. Ketika aku dihadapkan pada dua pilihan yang hampir mirip, dalam hal efek yang mungkin akan terjadi dalam kehidupanku. Yah, antara ”monte carlo” atau ”destilator”, begitulah aku menyebutnya. Ketika pertama kali aku memberanikan diri memilih ”monte carlo”, hari-hari kulalui dengan ceria. Seolah-olah hidup ini tanpa beban. Setiap hari berusaha untuk mengenalnya dan memahaminya. Sampai-sampai aku merasa berada pada satu titik dimana aku memiliki keyakinan kalau aku tidak salah jalan. Tetapi ketika hal itu terjadi, semuanya berubah, mimpi-mimpi yang selama ini kubangun hancur sudah. Yup, ternyata semua tidak sesuai dengan perkiraan. Asumsi-asumsi yang selama ini digunakan ternyata salah total. Semuanya hancur. Tidak seindah yang dibayangkan.

Mencoba ”lari” dari masalah, aku mengalihkan perhatian ke ”destilator”, dengan harapan bisa segera melupakan ”monte carlo”. Kembali, dengan menggebu-gebu mencoba memahami ”destilator’, mencoba berusaha mengenalnya lebih jauh, berusaha memahaminya. Tetapi apa yang kudapat lagi-lagi tidak sesuai dengan harapan. Tidak semudah yang diperkirakan. Semakin aku mengenalnya, semakin aku tak kuasa melupakan ”monte carlo”. Usaha-usaha yang kulakukan untuk menghapusnya dari ingatan seolah-olah malah semakin membuatku mengingatnya. Berusaha menghindar, tidak bisa. Seolah-olah dia memiliki satu jerat yang tak akan pernah mampu aku lepaskan. Malah semua memori tentang sang ”monte carlo’ terulang kembali layaknya video clip yang diputar dikepalaku. Senyum ramah sang ”destilator” hanya semakin membuat hatiku semakin hancur. Merasa kalau sulit sekali membuat satu pilihan. Ingin aku berkata pada destilator, aku tidak mampu melepaskan diri darinya.

Akhirnya beginilah adanya. Berada diantara ”monte carlo” dan ”destilator”. Dimana keduanya seolah-olah sayup-sayup memanggil namaku. Tanpa tau harus kemana melangkah. Mungkin hanya masalah waktu. Yang dibutuhkan hanya kesabaran, ketekunan, dan keberanian untuk menerima semua konsekuensi dari pilihan yang akan aku tetapkan.